1. Patrick Gardiner
Berpendapat bahwa filsafat sejarah menunjuk pada dua
jenis penyelidikan yang sangat berbeda. Secara tradisional ungkapan tersebut
telah digunakan untuk menunjukkan kepada usaha memberikan keterangan atau tafsiran
yang luas mengenai seluruh proses sejarah. Gardiner juga mengemukakan bahwa
filsafat sejarah dalam arti ini secara khas bercirikan dengan pertanyaan
mengenai hukum-hukum pokok mana yang mengatur perkembangan dan perubahan dalam
sejarah itu sendiri.
Patrick Gardiner terilhami oleh kepercayaan bahwa
sejarah menghadirkan masalah-masalah yang mengatasi masalh-masalah yang menyita
perhatian sejarawan professional. Para sejarawan professional dituntut dapat
memenuhi suatu konsepsi yang bisa diterima secara intelektual dan moral
mengenai perjalanan sejarah sebagai suatu keseluruhan.
Pokok persoalan yang dibahas oleh filsafat sejarah
bukanlah jalannya peristiwa-peristiwa sejarah, namun hakikat sejarah yang
dipandang sebagai suatu disiplin dan cabang pengetahuan yang khusus.
Filsafat sejarah berurusan dengan pokok-pokok seperti
tujuan-tujuan penyelidikan sejarah, cara-cara sejarawan dalam menggambarkan dan
mengklasifikasikan bahan mereka dan penjelasan-penjelasan dari hipotesis,
anggapan dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar tata cara penyelidikan mereka
2. Dilthey dan Beneditto Croose
Mengemukakan bahwa tujuan sejarawan itu sangat berbeda
dari sifat-sifat khas ahli-ahli ilmu alam. Para sejarawan tidak mempunyai
kepentingan untuk menemukan hukum-hukum dan teori-teori universal yang dapat
memunculkan dugaan-dugaan dan dapat digunakan sebagai petunjuk kepada tindakan
dalam konteks yang praktis dan teknis.
Menurut mereka, tujuan yang utama adalah menentukan
apa yang telah terjadi di masa lalu dan mengapa itu bisa terjadi dan lagi bahwa
prinsip pengetahuan dan pengertian yang sesuai bukanlah prinsip yang diandalkan
oleh tafsiran-tafsiran ilmiah tentang dunia.
Dilthey dan Crose menggaris bawahi perbedaan yang
mereka anggap penting sekali antara pokok persoalan ilmu dan pokok persoalan
sejaah. Perbedaan tersebut melibatkan kepercayaan bahwa tidak mungkin memandang
kegiatan-kegiatan para pelaku sejarah semata-mata sebagai potongan-potongan
tingkah laku yang dapat diamati kepada benda-benda fisik semata.
Sejarawan perlu merekonstruksikan “dari alam”
alasan-alasan, tujuan-tujuan, dan perasaan-perasaan yang menggerakkan pribadi
yang menjadi sasaran perhatiannya dan yang secara lahiriah diungkapkan dalam
tindakan-tindakan mereka. Bermacam-macam pengetian seperti “menghidupkan
kembali” dan “einfuhlung” didekati dengan maksud untuk dirincikan proses ini.
3. R.G Collingwood
Ia berpendapat bahwa tugas pokok sejarawan ialah
“memikirkan kembali” dan “memerankan” lagi di dalam pikirannya tentang
pertimbangan-pertimbangan dari pelaku sejarah dan dengan begitu peristiwa yang
harus disorotinya dibuat agar menjadi bisa dipahami dengan cara yang tidak ada
hubungannya dengan ilmu-ilmu alam. Istilah sebab memiliki arti tersendiri dalam
konteks cerita sejarah, tidak boleh dicampuradukkan dengan arti manapun yang
mungkin saja dikandungnya ditempat yang lain.
Collingwood mengemukakan ada dua pokok pembicaraan
yang penting dalam menggali filsafat sejarah. Pertama, mengenai sifat logis
penjelasan yang diajukan tentang peristiwa dan perkembangan yang sifatnya
khusus. Kedua, status epistemologis kisah sejarah masa lalu apakah valid,
objektif dan dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
4. Friedrick Hegel
Filsafat Hegel dapat kita telusuri namun terlebih
dahulu harus diterangkan bentuk filsafatnya. Seluruh sistem Hegel terdiri dari
rangkaian-rangkaian dialektis dari tiga tahap, yaitu: Tesis–Antitesis–Sintesis.
Contoh : Dari Ada – tidak ada – menjadi. Dialektis merupakan suatu “irama” yang
memerintahkan seluruh pikran Hegel. Kelemahan filsafat Hegel, antara lain bahwa
segala sesuatu dicocokkan dengan struktur dialektis ini, dipaksakan untuk
menerima benyuk yang sesuai dengan keseluruhan.
Hegel memandang sejarah manusia sebagai perwujdan ide
ilahi yaitu “yang mutlak” dan setiap bagian atau periode sejarah merupakan
suatu langkah terus kearah penyempurnaan ide yang ilahi itu. Ide ilahi itu
diwujudkan dengan kesempurnaan yang tertinggi dalam Negara. Manusia menerima
segala yang ia butuhkan untuk hidupnya baik yang moral maupun sosial dari
Negara.
Hegel menghendaki adanya banyak Negara atau nation
karena mereka itu adalah kegiatan dan semangat yang mendorong sejarah
terus-menerus. Lagi pula dalam setiap zaman ada suatu bangsa atau nation yang
dipilih yang bertanggung jawab atas perkembangan sejarah dan kebudayaan, suatu
bangsa yang bertugas dan berkewajiban mengembangkan sejarah dengan system
dialektis.
Hegel memandang ide itu yaitu yang mutlak sebagai
sebab yang terakhir untuk segala kejadian dan segala realitet. Idelah yang
menetapkan dan membentuk setiap yang disebut realitet dalam setiap fase, yakni
periode, langkah perkembangan sejarah.
5. Karl Marx dan Fredericht Engels
Marx memandang ide dan segala yang berhubungan dengan
ide itu adalah suatu materi yang diganti dan dibentuk dalam pikiran manusia. Ia
memandang manusia sebagai Tuhan untuk manusia. Manusia pada hakikatnya ialah
makhluk yang bermasyarakat dan hanya jika masyarakat dan dalam persatuan dengan
manusia lain, manusia itu adalah makhluk yang sejati.
Hegel berpendapat mengenai “dialektis”, yaitu
pendapat, jawaban dan persatuan. Persatuan itu dalam waktu sama merupakan
pendapat baru yang menuntut keberatan yang baru. Proses itu berlangsung terus
membimbing sampai pengetahuan yang lebih terang.
Ajaran Marx dan Engels disebut Materialisme dialektis
yang mengandung pkok-pokok pikiran dalam materialisme historis, yaitu :
· Faktor paling penting yang menyebabkan
perkembangan sejarah ialah faktor ekonomis. Dari basis itu timbul segala yang
disebut rohani dan akibat-akibat perbuatan rohani seperti kebudayaan, kesenian,
agama dan sebagainya. Semuaitu dinamakan bangunan atas Uerberbau.
· Basis itu bergerak secara dialektis dan akibat
dari gerakan itu adalah pertentangan social. Selanjutnya pertentangan social
menyebabkan perjuangan kaum buruh terhadap kelas dan kemenangannya berarti
memecahkan sama sekali pertentangan antara kelas-kelas itu.
Marx dan Hegel membagi
masyarakat menjadi lima lapisan dalam sejarah karena perbedaan keadaan produksi
masing-masing, yaitu Urkomunisme atau masyarakat pertama, bentuk perbudakan
atau masyarakat yang tak punya apapun, Feodalisme, Kapitalisme dan Sosialisme
Dasar filsafat Marx adalah
bahwa setiap zaman, sistem produksi merupakan hal yang fundamental. Yang
menjadi persoalan bukan cita-cita politik atau teologi yang berlebihan,
melainkan suatu system produksi.
Sejarah merupakan suatu
perjuangan kelas, perjuangan kelas tertindas melawan kelas yang berkuasa, pada
waktu itu di Eropa disebut kelas borjuis. Pada puncaknya daripada sejarah,
ialah suatu masyarakat yang tidak berkelas, yang menurut ajaran Marx ialah
masyarakat komunis.
6. Oswald Spengler (1880-1936)
Spengler menganggap bahwa setiap
kebudayaan sebagai satu kesatuan yang utuh memiliki sifat dan cirinya
tersendiri. Menurutnya kehidupan cultural dalam keseluruhannya akan sama dengan
kehidupan tumbuh-tumbuhan, bahkan manusia dan hewan.
Seperti halnya pada musim, maka
setiap siklus dari kehidupan cultural akan melaului empat fase perkembangan,
yaitu :
· Masa pra-kultural, berlangsung antara tahun
500-900 yaitu pada jaman Meroving-Karoling (Kerajaan Franka). Masa ini disebut
juga masyarakat tak bersejarah (historyless society).
·
Masa Kultural Awal (early), berlangsung antara
tahun 900-1500. Ditandai oleh system politik yang disebut feodalisme.
· Masa Kultural akhir (Late) berlangsung antara
tahun 1500-1800. Ditandai oleh lahirnya kota-kota yang dirintis Italia dan
Prancis. Menurut Spengler kultur yang besar adalah kultur kota. Rakyat, Negara,
politik, agama, seni dan ilmu pengetahuan berlandaskan pada suatu gejala utama
dari manusia, yaitu kota.
· Masa peradaban, dimulai dengan munculnya
Napoleon digelanggang sejarah. Dari segi politik fase ini dibedakan menjadi
Masa persaingan antar Negara (Contanding States) dan Masa Kekaisaran (Imperial
States).
Dengan konsep Spiral Spengler telah
menempatkan kebudayaan Barat pada fase menuju keruntuhannya yang mutlak yang
harus diterima dan dihadapi dengan kesadaran penuh.
7. Pitirim Sorokin (1889)
Ia adalah seorang sarjana Rusia yang
pindah ke AS ketika sejarah revolusi komunis 1917. Teori Sorokin adalah ia
tidak mengakui adanya siklus atau hukum fatum ala Spengler, ia tidak menerima
teori evolusi Marx dan teori Agustinus dan Toynbee yang menuju ke arah kerajaan
Allah tidak disetujuinya.
Ia menyatakan bahwa ahli-ahli seperti
Spengler, toynbee membuat teori-teori yang tidak benar-benar menghargai niatan
sejarah. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan naik-turun,
pasang-surut, timbul-tenggelam dengan ganti berganti.
8. Arnaold J. Toynbee (1889)
Ia adalah seorang sarjana Inggris yang terkenal dengan
karangannya: A Study of History yang terdiri dari 12 jilid. Teori Toynbee
didasarkan atas penyelidikan 21 kebudayaan yang sempurna seperti Yunani-Roma,
Maya (Amerika Tengah). Dan 9 kebudayaan yang kurang sempurna. Seperti Eskimo,
Sparta, Turki.
Kesimpulan toynbee adalah bahwa dalam gerak sejarah
tidak terdapat hokum tertentu yang menguasaai dan mengatur timbul tenggelamnya
kebudayaan-kebudayaan dengan pasti. Kebudayaan menurut Toynbee adalah wujud
daripada kehidupan suatu golongan seluruhnya. Menurut Toynbee gerak sejarah melalui
tingkatan sebagai berikut :
·
Genesis of Civilitation-lahirnya kebudayaan
·
Growth of civilitation-perkembangan kebudayaan
·
Decline of civilitation-keruntuhan kebudayaan
Kebudayaan dilahirkan karena tantangan dan jawaban antara
manusia dan alam sekitar. Pertumbuhan dan perkembangan suatu kejadian
digerakkan oleh sebagian kecil dari pihak-pihak kebudayaan itu..
Jumlah kecil (minority) menciptakan kebudayaan dan
massa (mayority) meniru. Tanpa minority yang kuat dan dapat mencipta maka suatu
kebudayaan tidak dapat berkembang. Garis besar teori Toynbee mirip dengan
tafsiran Santo Agustinus dan akhir dari gerak sejarah sama pula dengan civitas
die.
Spengler dan Toynbee lebih menekankan pada proses atau
tujuan sejarah. Sedangkan Karl Marx condong pada garis linier. Dalam kaitannya
dengan Spengler dan Toynbee bahwa sejarah bukan hanya yang terjadi sampai
sekarang atau yang lampau tetapi juga yang akan terjadi.
9. Herbert Spencer (1820-1903)
Menurutnya sejarah manusia
berkembangan secara evolusioner dari keadaan yang homogen menuju keadaan yang
heterogen yang berarti dari masyarakat yang sederhana menuju masyarakat yang
lebih maju atau kompleks. Teori evolusi Spencer adalah semua bentuk kehidupan
menempuh perkenbangan yang sama dari fase ke fase (sederhana ke kompleks)
sehingga tidak mungkin bergerak mundur.
10. Ibnu Khaldun (1332-1406)
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang filsafat sejarah begitu
panjang, namun Secara singkat, inti dari pemikiran filsafat sejarah Ibn Khaldun
adalah sebagai berikut :
·
Manusia hidup di dunia ini mempunyai tugas ganda
yaitu sebagai hamba Allah dan sebagai makhluk sosial yang di serahi tugas
sebagai khalifah untuk mengelola dan mengatur alam ini demi kesejahteraan
manusia itu sendiri yang sekaligus merupakan unsur budaya dari manusia itu
sendiri. Semakin cepat perubahan yang di lakukan oleh manusia, maka semakin
cepat pula cara berfikir manusia tersebut.
·
Setiap tindakan manusia (sebagai khalifah)
adalah untuk tujuan mengabdi kepada Allah, dan hal itu adalah tujuan dari
sejarah. Dalam proses pencapaian tujuan tersebut, manusia mengalami berbagai
problem dan lika-liku hidup. Ada manusia yang di timpa bencana, kesusahan dan
ada pula yang di beri nikmat dan selalu berkecukupan. Semua itu adalah
peristiwa yang menandai perjalanan sejarah untuk mencapai tujuannya.
·
Tercapainya tujuan sejarah, menurut Ibn Khaldun,
adalah di sebabkan oleh adanya penggerak sejarah. Menurutnya penggerak sejarah
itu adalah faktor Ilahi dan faktor alami. Faktor Ilahi adalah Tuhan. Dalam
agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) faktor Ilahi ini adalah Allah.
Sedangkan dalam agama ardhi dan agama primitif, faktor Ilahi itu adalah
dewa-dewa. Adapun penggerak sejarah dari faktor alami adalah, antara lain,
politik, ekonomi, sosial, budaya, solidaritas sosial dan lain sebagainya
11. Dr. Soedjatmoko
Berpendapat bahwa manusia dalam menghadapi fakta
sejarah, manusia selalu mencoba merumuskan suatu filsafat sejarah yang
mencukupi segala sesuatu dalam sejarah dengan memakai prinsip tertentu. Akan
tetapi, kenyataan sejarah tidak dapat dicukupi hanya dengan satu prinsip saja,
namun dengan beberapa prinsip sekaligus.
Dalam menghadapi kenyataan sejarah dan mencari
penjelasan sejarah, manusia harus lebih sadar akan ikatan sejarah daripada
pikiran, sistem pikiran dan si pemikir sejarah tersebut.
Suatu kebudayaan dianggap oleh filsafat sejarah
sebagai kesatuan kecil yang masih bisa digunakan dalam mengetahui suatu
sejarah. Dalam berpikir mengenai sejarah suatu bangsa, faktor-faktor yang
mempengaruhi nasib dan perkembangan bangsa bukanlah sesuatu yang istimewa.
Manusia harus lebih mengutamakan pandangan dirinya sebagai bangsa dan Negara
yang mempunyai asal dan panggilan tersendiri, yang berbeda dengan bangsa yang
lain.
Filsafat sejarah sekarang telah turun menjadi pemikiran,
renungan tentang sejarah dan filsafat sejarah nasional tidak lagi berada di
dalam ilmu sejarah atau di dalam filsafat sejarah
12. Prof. Sartono Kartodirjo
Filsafat sejarah adalah bagian dari filsafat yang
berusaha memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai makna dari suatu
proses peristiwa sejarah. Manusia budaya tidak puas dengan pengetahuan sejarah,
sehingga mereka mencari makna yang menguasai peristiwa sejarah dan hubungan
antara fakta-fakta sampai asal dan tujuannya.
Sejarah adalah masalah fundamental bagi hidup manusia
yang memberi harapan dan makna baginya. Sejarah akan memperoleh makna jika
kejadian-kejadian ditinjau dengan pandangan ke masa depan atau harapan
perwujudan ke masa depan. Filsafat sejarah yang pertama berkaitan dengan
kosmologi jaman kuno dan pandangan hidup dewasa ini.
Filsafat sejarah menjadi unsur atau aspek kebudayaan
yang dimiliki oleh peradaban yang mendukungnya dan menjadi manifestasi
kebudayaan yang mencerminkan gaya cultural peradabannya. Latar belakang
kebudayaan menjadi faktor penting bagi suatu filsafat sejarah, maka
perbandingan antara filsafat abad pertengahan dengan filsafat sejarah modern
akan mampu menunjukkan perbedaan sifat-sifat kedua peradaban tersebut.